Rabu, 19 Oktober 2016

pengalaman mencari pengasuh ....

belajar, belajar dan belajar....
selalu itu yang saya lakukann, karna diri ini masih sangat awam tentang cara mendidik anak

khaiz kecil , sedari umur 1 bulan sudah mulai di tinggal untuk mengajar, karna tawaran mengajr serta izin suami , saya tekadkan diri untuk mencoba keluar rumah, dan berbagi ilmu

hati ibu mana yang rela berpisah meski sementara dengan sikecil, ibu mana yang rela berbagi waktu untuk oranglain dalam mendidik anak2 anaknya, tapi banyak hal yang membuat kondisi itu terjadi pada ibu dan bayi mereka

begitupun dengan saya

Pengalaman pertama menitipkan bayi saya pada pengasuh/ tetangga yang dipercaya, sebut namanya si A . alasan kenapa memilih si Mrs A
1. karna rumahnya dekat dengan saya
2. sudah kenal dengan keluarganya,
 kebetulan dia ibu 1 orang anak umur 4 tahun,  dan suami saya yang memilihnya sendiri , ok saya setuju untuk dititipkan padanya, sebulan pertama amann, bulan kedua amann, di bulan ketiga mrs A mengajukan keberatannya unntuk lanjut mengurusi khaiz-ku karna jadwalnya memang tidak setiap hari dan juga hanya setengah hari di kampung itu kebiasaan orang yang menitipkan ya setiap hari diantar ke si penitipnya, yaaa mungkin fee nya juga yang kurang , kan saya menghitung berapa kali dititipkan karna tidak setiap hari hanya dua kali per pekan

oke saya akhirnya memutuskan mencri pengganti yang lain

Pengasuh kedua, lama jarak dari pengasuh pertama sampai ke2 khaiz sering saya bawa kesekolah karna belum dapat pengasuh ,kadang di titip ke tantenya , tak gampang mencari pengasuh yang bisa di percaya alhamdulillah fisik khaiz sangat tangguh, dia bukan anak yang rewel di usianya 3 bulan khais terbiasa saya bawa pergi2an berdua menggunakan motor, untungnya hanya 2 kali per pekan dan belum padat jadwal mengajar saya, alhamdulillah tak lama ada yang menawarkan diri ke rumah orang yang dulu ikut bersih2 di rumah , oke karna sudah tau rumahnya dan termasuk dekat saya terima , dan esoknya mulai di titipkan pada mrsB. 
masalahnya mrs B . dia bru bisa pegang khaiz jam 07.30 sementara saya harus berangkat jam 06.45 masuk sekolah kan jam 07.00 , jadi sementar itu khais dititipkan pada yang ada di rumahnya, entah cucunya , atau menantunya, yang membuat saya galau khaiz tentunya jadi rewel , setiap berte,mu orang baru , dan membuat saya semakin tidak enak hti meninggalkannya dengan kondisi spt itu, ibu mana yang tega!  
masalah kedua yah kondisi lingkungan dan cara berbahasa mrs B kurang halus caranya berbicara kasar dan lainlain, dalam hati saya berdoa ya Allah berilah tempat yang aman untuk anak saya, dan bila tidak ada juga lebih baik saya yang dirumah tak usah mengajar
alhamdulillah mealalui perjalanan panjang akhirnya saya sementara pindah rumah untuk sementara juga merenovasi rumah 
di tempat yang baru mencari mengganti pengasuh yang baru

pengasuh ketiga, cari sana-sini, dan dapatlah pengasuh Mrs C, dapat di tempat yang baru, pengasuh yang satu ini telaten, apalagi menyuapi khaiz alhamdulillah khaiz di tangannya tidak rewel, saya aman bila menitipkannya, dan lagi ketika khaiz sakit dia datang kerumah memberi alternatif obat seperti membalur badan khaiz yang flu dengan bawang ,merah, memberinya asam jawa di ubun-ubun agar tak pilek, alhamdulillah yang satu ini aman,,, satu bula, dua bulan di bulan ketiga cucu nya yang berumur 3 tahun terkena DBD, yang  saya syok sangat , sehingga terakhir kali menitipkan khaiz benar2 was was karna tempat tinggalnya memang kurang bersih , saya khawatir juga dengan khaiz. maklum saya jauh dari orang tua, insting saya sebagai ibu adalah melindungi anaknya, siapapun pasti begitu bila memiliki anak, akhirnya saya pindha rumah alhamdulillah rumah yang dulu telah selesai di renovasi pr nya adalah ,mencari pengasuh lagi untuik si mas khaiz-ku

Pengasuh ke-empat, mrs D ya Allah ,,,, memang saya tipikal selektif tapi ya mau bagaimana lagi , satu sisi saya juga tak bisa meninggalkan kewajiban mengajar di tengah2 semester seperti ini, tap[i kasian khaiz tak gampang mencari orang yang benar2 dalam mengurus anak kecuali ibunya sendiri, yang satu ini saya pasrah , sang suami yang mencarikan, dan dapatlah seorang pengasuh yang termasuk kerabat sendiri ,, awalnya saya memiliki firasat kurang enak, kok tiap di berikan pada Mr D ini wajah nya seperti tertimpa musibah , kurang senyum, mungkin hanya perasaan saya ,... khais pun  rewel,,, duhh,, hatiiii,,, ya Allah seperti ini terus saya bertekad sudahi sja mengajarnya,,, hingga akhir bulan,.   di beberapa hari itu khaiz kok mencret,,, pup nya hijau dan tak seperti biasa, hari itu seperti bisa saya menjemput khais jam 12 siang, muka khaiz kok agak pucat  , di rumah khaiz muntah, -muntah, tiap diberi susu muntah, tapi memang masih aktiv anaknya, , pupnya jadi semakin sering, akhirnya saya bawa khaiz ke klinik, di klinik yahh cuma di beri obat mencret , besokknya saya libur dulu mengajar, untuk menjaga khaiz,, khaiz terus saya pantau masya allah pupnya masih sering, dan intensitasnya tidak menurun, memang anaknya tidak rewel masih aktif lama kelamaan, dia mulai lemas,,, sebagai ibu yang menjaga anak sendiri,,, keputusan harus diambil meski itu di tengah malam, alhamdulillah suami pulang kerja jm 12 malam, saya berkata bi, kita ke rs sekarang khaiz tambah lems, tanpa basa basi , dan tas perlengkapan yang sudah disipkan dari siang, kami berangkat di temani mertua di tengah malam
sampai di UGD khaiz di infus kata dokter jaga , khaiz dehidrasi sedang, belum parah, alhamdulillah langsung dapat kamar kosong untuk bayi,, 
perasaan melihat bayi ku di suntik suster tak berperikemanusiaan adalah.... " sini sus suntik di saya saja, jangan di anak saya!!!!",,, hihiksssssssss meleleh lah air mata sebanyakbanyaknya
khaiz menangis histeris apalagi kalau melihat infusan yang dibedong dengan papan kayu di tangannya dia semakin histeris,,, cepat2 kami mengantar khaiz ke kamar rawat, alhamdulilah sesampainya di kamar khais segera ku dekap dan di beri ASI,  perlahan-lahan ia mulai tertidur sambil menyusu,,, alhamdulillah
3 hari dirawat, di bulan agustus 2016 lalu, alhamdulillah khaiz pulih dan ternyata ada bakteri gram positif di feses khaiz, kemungkinan kata dokter khaiz  termakan beda2 kotor , yang jelas terpapar bakteri sampai perutnya sebegitu mulas menyebabkannya terkena diare,,,,,
oohh begitui ok akhirnya saya memutuskan istirahat di rumah tak lagi kemana-mana ingin mengurus khaiz saja sendiri
tak ingin menyalahkan orang lain karna tak bisa mengurus khais/ lengah menjaga khaiz, yang salah adalah saya, saya tak bisa menjaganya titipan Allah ini,,, saya sangat amat merasa bersalah.........

dua hari kemudian suami mengajak diskusi, sebetulnya saya mengajar memang tak sama sekali menambah perekonomian, kan gaji guru tak seberapa, tapi suami kasian dengan saya bila tak ada aktivitas di rumah, ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah sayang bila tak di bagikan apalagi seorang guru sungguh mulia jasanya, akhirnya suami memberi soluli kebetulan dekat rumah ada baby day care baru, tempat penitipan anak, kita coba 1 bulan di sana, bila khaiz cocok ummi boleh melanjutkan mengajar, tapi bila kurang cocok silahkan diirumah dan tak usah mengajar lagi... 'Alhamdulillh diberi kepercayaan penuh oleh suami untuk mengajar lagi",,,,,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar